Tampilkan postingan dengan label pemimpin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemimpin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

"PRAHARA DI TUBUH PDI-P PASCA 'MASUKNYA' JK"


Fb @MATANEWS.com
Kita bahas gejolak di PDIP terkait penetapan JK sbg cawapres Jokowi ..
1. PDIP bergejolak, ancaman perpecahan timbul, lebih parah dibandingkan saat Megawati enggan capreskan Jokowi Maret lalu
2. Gejolak perpecahan PDIP disebabkan penetapan JK sbg cawapres Jokowi. Kubu Faksi Partai Kristen Indonesia (Parkindo) tidak setuju. Protes
3. PDIP merupakan partai fusi (hasil gabungan) Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Nasional Indonesia (PNI), Murba, dan partai lain
4. PDIP selama ini dianggap sebagai RUMAH BESAR partai nasionalis dan kristen. Di PDIP ada faksi2 atau kubu2 yg selama ini akur harmonis
5. Secara ideologis, PDIP partai tengah kiri (nasionalis, sosialis komunis, kristen). Komposisi pengurus harian DPP PDIP kombinasi unsur2
6. Dari 27 pengurus Harian DPP PDIP : 13 islam, 13 non islam, 1 Megawati. Seimbang. Megawati dan alm TK menjaga keseimbangan itu
7. Sejak awal PDIP kurang kompak dalam mengusung Jokowi, kubu nasionalis (dipimpin Puan Maharani) tdk setuju dgn pencapresan Jokowi
8. Pasalnya, Jokowi diorbitkan popularitas dan elektabilitasnya melalui rekayasa faksi Parkindo (kristen) yang diotaki James Riady cs
9. Puan cs (faksi terbesar di PDIP), khawatir Jokowi hanya dijadikan boneka dan batu loncatan faksi kristen utk menggusur dinasti Bung Karn0
10. Namun, Puan & Mega akui bahwa akibat bantuan James Riady - Stanley B Greenberg - China Connection - Arkansas Connection, PDIP berjaya
11. Promosi besar2an Jokowi dgn biaya triliunan rupiah, dibantu oleh Greenberg ahli pollster dan konsultan politik No. 1 dunia, efektif
12. Kubu Parkindo / Kristen di PDIP sudah di atas angin dan merasa akan dengan mudah memenangkan pilpres dgn usung Jokowi. Namun, tiba2 …
13. Tiba2 JK dan kubu katolik manuver dengan meminta bantuan Paus Fransiskus untuk mendesak Obama, tekan James Riady, buka akses ke Jokowi
14. Umat Katolik terutama elit katolik Indonesia merasa resah dengan dominasi dan kendali James Riady cs dan Faksi Kristen terhadap Jokowi
15. James Riady, agen China Millatary Intelligence dan sahabat karib Clinton, anggota arkansas connection adalah penganut kristen evangelis
16.James masuk kristen evangelis pada tahun 1990, dibina langsung oleh Pat Robertson, tokoh evangelis, kristen fundamentalis No. 1 di AS,
17. Pengaruh James Riady di AS sangat kuat, dia donatur utama Presiden Clinton dan Obama melalui China Global Resources Ltd di Hongkong
18. Ingat skandal Lippo Gate di AS yang menggoncang dunia dimana James Riady ketahuan menyumbang jutaan US$ Ilegal utk kampanye Clinton ?
19. Sumbangan ilegal ke kampanye Clinton (lippogate) itu berasal dari China Global Resources Ltd (perusahaan kedok Intelijen militer china)
20. Meski dihukum denda US$ 8.6 juta dan dilarang masuk ke AS selama 2 thn, Clinton kemudian memberikan amnesti kepada James Riady
21. James sangat kuat lobi dan pengaruhnya di Partai Demokrat AS, apalagi pemerintahan Obama didominasi elit Arkansas Connection
22. Lobi &pengaruh James Riady juga cukup kuat di Partai Republik karena Pat Robertson, mentor kristen evangelis James adalah tokoh Republik
23. Teman kami yang juga deputi BIN Malaysia, pernah mengatakan, “James Riady ada manusia paling berbahaya di dunia”
24. Pada diri James Riady bersatu dua kepentingan raksasa dunia : China dan AS. Pemilu Malaysia tahun lalu jg tdk terlepas dari peran James
25. James juga yang mempertemukan Megawati dan Gus Dus (didampingi alm Matori Abdul Djalil) dengan Madeline Albragiht Menlu AS thn 1999 lalu
26. Saat itu, pertemuan di Singapore, AS melalui menlu Albright menyatakan dukungannya thdp Gus Dur - Mega sebagai capres dan cawapres RI
27. Pada tahun 2012 lalu, kembali James Riady bersama2 Faksi Partai Kristen Indonesia (Sabam, Ara dst) menggalang kekuatan utk dukung Jokowi
28. James direstui antony salim (anak konglo terkaya RI, sudono salim / Liem Sioe Liong) menggalang konglo2, mafia, koruptor BLBI utk Jokowi
29. Dibantu skenario dan strategi oleh Stanley Berhard Greenberg, hasil kolaborasi china - AS - mafia cina RI ini sungguh luar biasa !
30. Jokowi yang tdk jelas asal usulnya, disulap dalam sekejap menjadi tokoh idaman, pujaan, bak nabi dan malaikat dari surga utk Indonesia
31. Hampir semua tokoh mengatakan :
“Jokowi is unstoppable !”
“Jokowi pasti jadi presiden (boneka) !”
32. Jokowi disupport kekuatan politik, uang, jaringan, media dll yang luar biasa besar. “Kolaborasi asing - aseng - antek”
Kami pun gelisah
33. Republik ini tdk boleh jatuh ke tangan boneka dan jongos asing - aseng - antek. Itu harga mati !
Kami mendesak SBY bertindak.
34. Kami mendesak Presiden SBY bertindak menyelamatkan negara dari ancaman neokolonial melalui penciptaan Jokowi sbg capres boneka
35. Kami tanpa kenal lelah dan tdk kenal waktu mendatangi dan melobi satu per satu para tokoh bangsa, menyadarkan betapa bahayanya NKRI
36. Alhamdulillah, puji tuhan, syukur tiada terhingga, Presiden SBY bertindak, tokoh2 bertindak, dan elit katolik bergerak cepat
37. SBY melalui jenderal jusuf iskan mantan Ka Bais mengatakan “belum pernah dlm sejarah, komunitas cina indonesia sesolid sekarang””
38. Elit Katolik Indonesia melobi Paus Fransiskus berhasil mengundang Obama ke Vatikan usai lawatannya ke Ukraina pada 27/3/2014 lalu
39. Paus menyampaikan keprihatinan rakyat RI khususnya umat Katolik Indonesia thdp dukungan luar biasa AS (arkansas connection) thdp Jokowi
40. Paus mencemaskan masa depan umat Katolik Indonesia jika Jokowi dikendalikan dan di bawah hegemoni kristen fundamentalis Indonesia
41. Obama menyerap aspirasi Paus Fransiskus dan berjanji akan mendiskusinya kembali pada 15/4/2014 setelah diadakan pertemuan di Jakarta
42. Pertemuan di Jakarta, utk mendapatkan informasi dan aspirasi rakyat Indonesia seutuhnya diprakarsai dubes vatikan utk Indonesia
43. Semula, Jokowi - Mega - Dubes AS utk RI akan diundang Dubes Vatikan sbg tindaklanjut pertemuan Paus - Obama di Vatikan
45. Namun, rencana tsb dibatalkan, terlalu riskan jika dubes vatikan bertindak sbg pengundang dan tuan rumah. Umat Islam RI akan antipati
44. Namun, rencana tsb dibatalkan, terlalu riskan jika dubes vatikan bertindak sbg pengundang dan tuan rumah. Umat Islam RI akan antipati
45. Untuk menghindari kehancuran popularitas Jokowi jika tuan rumah adalah dubes vatikan, maka sesuai kesepakatan dubes dan tokoh2 katolik,
46. ..pertemuan di lakukan di rumah Jacob Soetoyo, pengusaha katolik, penyantun CSIS. Sbg saksi sekaligus pengelabuan, diundang dubes2 lain
47. Dubes Meksiko diundang sebagai representasi komunitas katolik dunia, Nowergia - Denmark mewakili uni eropa, Turki netral
48. Mahatir diundang hadir atas permintaan JK. JK dekat dgn Mahatir. Mahatir diharapkan punya pengaruh utk perjuangkan kepentingan islam RI
49. Hasil diskusi dan penyampaian aspirasi umat Katolik kepada dubes AS di rumah Jacob Soetojo itu, Dubes AS teruskan ke Presiden Obama.
50. Presiden Obama terlibat diskusi dengan Paus Fransikus pada 15/4/ 2014. Hasil dari pembicaraan dua tokoh dunia itu diteruskan ke Jakarta
51. Dapat diduga, Obama akhirnya meminta James Riady mundur, kurangi kendali thdp Jokowi, buka akses utk elit Katolik ke Jokowi
52. Dapat dipahami besarnya kekecewaan James Riady cs yang telah mempersiapkan Jokowi sbg capres boneka sejak awal 2012 lalu
53. Demikian juga dengan elit2 kristen (sabam, ara, panda cs) sekutu James Riady di PDIP, sangat kecewa karena ditelikung JK & Katolik
54. Ibarat kata pepatah “ Pacaran nan di awak, kawin nan di urang” ..pacaran sama saya, kawin sama orang lain..itulah nasib james, sabam cs
55. Kekecewaan kubu / faksi kristen di PDIP atas restu Obama terhadap Jokowi - JK, meski hanya restu setengah hati, merembet ke akar rumput
56. Pendukung Jokowi dari akar rumput/massa kristen dipelopori aktivis2 kristen fundamentalis seperti Bara JP, Pro Jok, dll senyap seketika
57. Semula pendukung Jokowi dari para aktifis kristen fundamentalis ini sangat militan, solid dan fanatik dukung Jokowi. Hidup mati Jokowi
58. Namun sejak Obama mendesak James cs mundur dan Katolik dibuka akses ke Jokowi, kubu kristen kecewa. Mereka skrg tiarap. Tggu perintah
59. Apalagi dana dan logistik yang semula deras mengalir ke kubu Projok, Bara JP dari konglo2 dan mafia cina, tiba2 terhenti. Kran ditutup
60. Antony Salim dgn Grup Salim dan Bank Mega - nya (Trans Corp) terpaksa deal ulang dng SBY. Antony tarik dukungan dari Jokowi
61. CT proxy Antony dijadikan Menko. TW yg masih sumbang jokowi dan main dua kaki, diberi pesan tegas dgn pengusutan Sentul City oleh KPK
62. Konglo2 cina yg masih membandel mau kuasai RI via si boneka Jokowi diberi pesan tegas melalui kasus BCA oleh KPK. Mafia Cina Skak mat !
63. Dari 27 ormas cina di Indonesia, minggu lalu 17 sdh menarik diri dari Jokowi. Kemarin hanya tinggal 3 ormas cina yg dukung Jokowi - JK
64. Ormas komunitas cina yang dukung Jokowi hanya tinggal ormas berbasis Katolik, dgn panglimanya Sofyan - Rudi - Jusuf Wanandi cs
65. Kubu Kristen di internal PDIP terlihat kecewa berat dan terwakili melalui pernyataan2 Sabam Sirait yang cetuskan ingin mundur dari PDIP
66. Ibarat lagu “kemesraan ini janganlah cepat berlaluu… “ Ara, James dan faksi kristen masih kendalikan penuh Jokowi
67. Sekarang Jokowi malah mesra dengan Jacob Soetoyo, tuan rumah proxy dubes vatikan hehe
68. Apakah Jokowi akan tetap begini? Apakah James tetap jadi majikan Jokowi pasca perseteruan Katolik - Kristen?
69. Akhirnya Jokowi kembali ke pangkuan JK. Akankah Jokowi jadi jongos Jk? Atau bakal dilipat habis oleh JK?
70. Mana suara pendukung Jokowi ? Masak balik badan hanya gara2 Jokowi dikendalikan JK - Wanandi - CSIS ? Loyal donk
71. Jokowi emang diperlu dibina, masak capres nekad plagiat tulisan Romo Benny.... Aduuh biyuuung !! Jok jok !
71. Pendukung Jokowi yakinlah, kalian tdk akan ditipu lagi..mereka ini semua sudah tobat nasuha kok hehehe
72. Gimana Mas Andy ? Masih setia dukung Jokowi kan? Jgn lupa pesan Bapak ya ! Jaga NKRI dengan jiwa dan raga !
73. BY THE WAY kami kangen juga dgn bos jasmev & partaisocmed si KartikaDjoemadi .. Rindu dgn twit2nya yg lucu hehe
74. Pada kemana ribuan akun Jasmev (jokowi advance socmed volunteer) ya? Apa blm dapat sponsor dari Vatikan ya Dee?
75. Kepada JK kami ucapkan terima kasih. Anda hebat, bs kalahkan James Riady.. Ruaar biasa ! Tp jgn kesehatan ya pak
76. Kepada Bang Luhut dan Bang Edo (AMHP) ..tetap semangat ya ..selamat berjuang meski abang berdua ga bisa jd presiden bayangan
77. Kepada Bu Mega, kami maklum pilihan anda sulit. Anda sudah lakukan yang terbaik, demi bangsa, demi rakyat, demi PDIP. Terima kasih


Minggu, 17 Maret 2013

Pemimpin dan Tokoh Bangsa




                   Mereka ketiganya telah meninggalkan kita , tapi itu tak berarti kita melupakan ajaran , cita 2 dan harapannya buat bangsa dan negara yang tercinta ini .  Generasi penerus harus melanjutkan , meneruskan cita2 harapannya . 

Selasa, 19 Juni 2012

RANJI LIMBAGO ADAT ALAM MINANGKABAU


RAJO TIGO SELO,
BASA AMPEK BALAI DAN TUAN GADANG BATIPUAH, GAJAH GADANG PATAH GADIANG, TAMPUAK TANGKAI ALAM, SAPIAH BALAHAN, KUDUANG KARATAN, KAPAK RADAI
DAN TIMBANG PACAHAN PAGARUYUNG SERTA
 LANGGAM NAN TUJUAH KOTO PILIANG
LUBUAK NAN TIGO TANJUANG NAN AMPEK


I.         RAJO TIGO SELO
1.      Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Pagaruyung
2.    Yang Dipertuan Rajo Adat Buo
 3.  Yang Dipertuan Rajo Ibadat Sumpur Kudus
 
  II.   1.   PUCUAK BULEK UREK TUNGGANG KELARASAN KOTO PILIANG:
        Datuk  Bandaro Putiah Sungai Tarab
  2.   PUCUAK BULEK UREK TUNGGANG KELARASAN BODI CANIAGO:
      Datuk Bandaro Kuniang Lima Kaum  Gajah Gadang Patah Gadiang.
3.      PUCUAK BULEK UREK TUNGGANG NAN SALAREH BATANG BENGKAWEH : Tampuak Tangkai   Alam.
      Tampuak Alam : Datuk Bandaro Kayo Periangan;
      Tangkai Alam : Datuk   Marajo Basa Padang Panjang.
4.      SIMARAJO LELO NAN SAMBILAN:
Inyiak Sako Kumanjh
 
   III. BASA AMPEK BALAI
         1. Tuanku Panitahan Sungai Tarab Dt. Bandaro Putiah
         2. Tuan Indomo Saruaso
         3. Tuan Machudumsyah Sumanik
         4. Tuan Kadi Padang Ganting
         5. Tuan Gadang Batipuh Dt. Pamuncak Alam Sati

Senin, 28 Mei 2012

Minang Maimbau



Selamat Datang - Selamat Datang
Ingek Sabalun kanai - Ingek Sabalun Kanai
Pelangi Hati - Pelangi Hati
Sungai Pua Bukittinggi - Sungai Pua Bukittinggi
Sarasah - Sarasah
Gunung Merapi - Gunung Merapi
Minangkabau - -datuak-tumangguang.html

                                                       
                                                       
               Afrika Selatan online  -  Africa selatan online
Bukittinggi tempodulu - Bukittinggi tempu dulu
Minangkabau manangih - Minangkabau manangih
Ranah Minang Maimbau - Ranah Minang Maimbau
Otalapau - http://www.freewebs.com/gobahputra/apps/blog/#/





Lagu Minang - lagu-minang-klasik.html

Sabtu, 26 Mei 2012

Ke Jakarta Bukan Adu Nasib

JAKARTA-Cagub DKI Jakarta nomor urut 6, Alex Noerdin, membantah tudingan bahwa maksud mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI untuk mengadu nasib. Sebab, dirinya mencalonkan diri memimpin Jakarta karena diminta untuk membenahi Jakarta dari segala masalah yang disandang ibu kota.




Hal itu ditegaskan Alex Noerdin menanggapi sindiran yang dilontarkan Cagub incumbent Fauzi Bowo pada program acara ’BBM Show’ di salah satu stasiun televisi swasta, Kamis (24/5).
Ketika itu, Foke yang menjawab pertanyaan peserta menjawab bahwa Jakarta memang seperti magnet yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi rakyat Indonesia. Sehingga, mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Bahkan, tambah Foke, saat ini kepala daerah pun ingin mengadu nasib di Jakarta. 
Pernyataan itu dibantah oleh Alex Noerdin. Menurut Alex, kedatanganya ke Jakarta karena dirinya diminta membenahi Jakarta dari segala problematika yang disandangnya dari mulai masalah banjir, kemacetan, keamanan dan masalah masalah sosial lainnya yang tak kunjung usai.  Dan kesanggupan ini, menurut Alex, bukan tanpa dasar. Tetapi karena pihaknya telah mempelajari segala permasalahan yang ada di Jakarta. Modalnya adalah pengalaman yang dimiliki Alex semenjak menjadi Bupati Muba hingga menjadi Gubernur Sumatera Selatan.
"Jadi saya bukan mau mengadu nasib tetapi diminta," tegas Alex. Acara yang diikuti lima pasangan kandidat Cagub DKI Jakarta ini dipandu pakar komunikasi politik Effendi Gozali dan pelawak Kelik Pelipur Lara.
Kelima Kandidat Cagub itu masing masing Alex Noerdin, Faisal Basri, Hidayat Nurwahid dan Hendarji Supanji serta calon incumbent Fauzi Bowo.  Kelima Cagub DKI itu menyampaikan visi dan misinya untuk pembangunan Jakarta ke depan.
Seperti yang disampaikan Alex Noerdin dirinya akan mengatasi masalah Jakarta seperti banjir dan macet dalam waktu 3 tahun. Sedangkan untuk masalah kemanan akan diselesaikanya dalam waktu 1 tahun. Untuk masalah kesehatan dan pendidikan pihaknya akan membebaskan biaya sekolah dan biaya berobat satu hari setelah dilantik.  
Ketika menjawab pertanyaan tentang perhatian pemerintah pada dunia seni dan budaya, Alex mengatakan nantinya akan merevitalisasi kembali tempat-tempat yang mewadahi para seniman dan budayawan. Mengingat keberadaan gedung kesenian yang ada saat ini memang perlu pembenahan. 
Dalam acara itu kepada para kandidat juga diberi kesempatan untuk saling bertanya.  Menurut Hendarji Supanji, untuk membenahi Jakarta harus diawali dengan menghilangkan ’kumis’ yaitu kumuh dan miskin. (fol)

Kamis, 24 Mei 2012

Momen Jatuhnya Demokrat, NasDem Disarankan Konvensi Capres


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai NasDem, sebagai partai baru yang prospektif perlu melakukan konvensi calon presiden (capres) melalui pemilu pendahuluan, seperti yang dilakukan di Amerika Serikat (AS).
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens mengatakan, ide konvensi capres melalui pemilu pendahuluan seperti di AS mestinya diambil oleh partai baru yang prospektif seperti NasDem.
“Primary election adalah tradisi Amerika Serikat (AS) yang menarik. Sebuah model demokrasi deliberatif, dimana pertimbangan publik dibutuhkan sebelum partai menentukan siapa capres dalam pilpres,” katanya, Rabu (23/5/2012).
Boni mengatakan primary election biasanya dimulai di negara bagian Iowa, dan selalu dimulai pada hari selasa sehingga disebut Super Tuesday.

Pemilihan pendahuluan selalu mencerminkan pemilihan yang sesungguhnya, ketika para kandidat dari dua partai besar di AS bertarung dalam pilpres.Keuntungan dari sistem ini, kata Boni, rakyat menentukan sendiri capresnya. Deliberasi publik benar-benar optimal.
Keuntungan lain, sportivitas dalam menerima hasil pemilu cukup terjamin, karena kedua capres dari dua partai ditentukan berdasarkan kehendak mayoritas rakyat.
Boni mengakui, isu konvensi ini sudah ada di tubuh Partai Demokrat.

"Tapi kan Partai Demokrat sudah selesai, dengan gagalnya pemerintahan SBY, korupsi di teras elitenya, dan lain-lain, yang membuat Partai Demokrat bukan begawan lagi," katanya.
Partai Demokrat sama sekali tidak seksi lagi. Bahkan partai tersebut bisa mati muda. Partai-partai tua lain, termasuk partai menengah baru seperti PKS, juga tidak memiliki kinerja yang begitu spektakuler, sehingga tidak pantas mengusung isu modern seperti pemilihan pendahuluan tersebut.
“NasDem harus merebut peluang itu, memulai sebuah pendidikan politik yang modern, melakukan gebrakan yang seksi, karena ia partai baru yang masih bening dan sudah jelas mendapat dukungan publik, seperti terlihat dalam hasil survei bberapa lembaga selama ini. Apalagi tubuh NasDem banyak kader muda yang cerdas dan memiliki track record bagus,” katanya.

           
Padang today.com - Padang today.com           
nagari Sungai Pua - nagari Sungai Pua       
IKSP Jabotabek - IKSP Jabotabek     
merdeka.com - merdeka.com       
Bupati Agam - Bupati Agam       
Minang Forum - Minang Forum       

West Sumatra .com  -  West Sumatra .com
Padangmedia.com - Padangmedia.com
     
                                                                            

Rabu, 23 Mei 2012

Ranah Minang



Singalang - Singalang
Ikatan Keluarga Sungai Pua -Ikatan Keluarga Sungai Pua  
Barito Minang - Barito Minang
Provinsi Sumbar -Provinsi Sumbar
Teluk Bone- Teluk Bone
Selat Makasar - Selat Makasar
Tokoh - Tokoh

                          
                               

                                                Radio online Pagarak -http://radiopagarak.blogspot.com/#                                                           
                                                            Pahlawan Revolusi  - Pahlawan Revolusi
                                                 

Rabu, 02 Mei 2012

PDRI , PRRI dan Sjafruddin Prawiranegara


Dikarang oleh : DR. Mestika Zed
Politics of Memory.
Sjafruddin Prawiranegara dalam Dua Zaman: PDRI dan PRRI.
Oleh: Mestika Zed
Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE), Universitas Negeri Padang
SEJARAH memerlukan peristiwa.
Peristiwa memerlukan tokoh.
Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa.
Bagi yang tak tewas dalam peristiwa, nasibnya akan dipertimbangkan lewat sejarah.
Masalahya sejarah yang mana? Sejarah formal? Atau sejarah publik?
Oleh karena politik yang mendefinisikan syarat-syarat menjadi tokoh ”pahlawan” didasarkan pada ideologi, maka ia menjadi urusan ”politik ingatan” (politics of memory) rejim yang berkuasa.
Dalam konstruksi ”politik ingatan” semacam itu, ada tokoh yang harus diingat dan diulang-ulang mengingatnya, bahkan dengan berbagai cara (buku, film, bangunan dan arsip), dan pada saat yang sama ada pula yang wajib dilupakan.
Ada tokoh yang pada suatu zaman dielu-elukan, kemudian hilang atau dihilangkan dari peredaran memori bangsa.
Mengapa bisa demikian?
Tulisan ini akan membicarakan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989), salah seorang tokoh yang dilupakan, kalau bukannya sengaja dihilangkan dalam bingkai ”politik ingatan” sejarah bangsa.
Ada dua peristiwa historis dalam sejarah bangsa, yang terkait dengan nama tokoh ini dan yang membuat dirinya diingat dan sekaligus dilupakan.
Keduanya berlangsung dalam era berbeda, yang satu PDRI, yang lain PRRI.
Peristiwa I, PDRI (1948-1949).
Peristiwa itu disebut Era PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) tahun 1948-1949, berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan melawan Belanda, saat rejim kolonial melancarkan agresi militernya yang kedua bulan Desember 1948.
Akibatnya, nyaris fatal.
Mengapa? Bukan saja karena ibukota RI (Yogyakarta), jatuh ke tangan Belanda, tetapi pucuk pimpinan RI (Sukarno-Hatta) beserta sejumlah menteri ditangkap Belanda pula.
Sekedar ilustrasi mutakhir, bisakah Anda, pembaca yang budiman, membayangkan apa jadinya kalau Tripoli jatuh ke tangan musuh Khadafy dan ia sendiri ditangkap!
Begitulah kira-kira analoginya nasib Republik era PDRI.
Maka tidak heran jika Belanda waktu itu menganggap RI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 itu sudah bubar, tamat riwayatanya.
Namun di saat yang sangat genting itu, darurat, Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Hatta, yang sedang berada di Bukittinggi, tampil ke depan memimpin Republik menggantikan Sukarno-Hatta.
Bukan kebetulan ia berada di sana, sebab sudah merupakan ’skenario besar’ dalam perang gerilya waktu itu bahwa jika Jawa sewaktu-waktu diduduki Belanda, kepemimpinan Republik harus berada di Sumatera.
Dan Sjafruddin Parwiranegara, waktu itu sudah berada di sana.
Beliau bukan saja mendapat mandat untuk memimpin RI dari Sukarno-Hatta yang ditawan Belanda, tetapi Panglima Jendral Sudirman, yang bergerilya di hutan-hutan di Jawa pun mematuhi perintah dari PDRI yang berpusat di Sumatera.
Sebagai ketua/ presiden RI di masa darurat, Sjafruddin memimpin perjuangan RI dari Bukittinggi, kemudian berpindah-pindah tempat ke pedalaman Sumatera Barat.
Akhirnya, PDRI dengan dukungan internasional, memaksa Belanda membebaskan pemimpin RI yang ditawan dan mengembalikan mereka ke ibukota Yogya pada pertengahan Juli 1949. (Episode ini dalam sejarah bangsa dikenal dengan ”Yogya Kembali”).
Sejak itu rangkaian perundingan menuju pengakuan kedaulatan RI tinggal menunggu waktu.
Peristiwa II: PRRI (1958-1961).
Era PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) berlangsung sekitar 10 tahun setelah PDRI (1958-1961).
Peristiwanya terkait dengan pergolakan daerah melawan rejim Jakarta.
Tahun 1950-an Indonesia mulai belajar mengurus negeri sendiri.
Sebagai bangsa yang baru merdeka, banyak bengkalai paska perang yang harus diselesaikan.
Suhu politik nasional pun memanas.
Partai-partai berseteru merebut kursi kekuasaan.
Maka yang terjadi ialah gonta-ganti kabinet tiap sebentar.
Hampir tiap tahun, bahkan ada yang tak sampai usianya satu tahun, kabinet diganti lagi.
Karena pusat terlalu sibuk berpolitik, maka pembangunan daerah menjadi terlantar.
Lalu muncul dewan-dewan daerah di Luar Jawa yang mencoba menolong diri sendiri untuk membangun daerah mereka.
Rejim Jakarta jadi ciut nyalinya, sebab semangat otonomi di daearh muncul secara alami dan itu dapat membuat berkurangnya ketergantungan daerah terhadap pusat.
Maka berbagai kebijakan semena-mena oleh pusat makin menjadi-jadi.
Presiden Sukarno, misalnya, mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua formatur untuk menyusun kabinet baru, mengangkat dirinya sebagai ’presiden seumur hidup’; ia tidak hanya membiarkan PKI masuk kabinet padahal sudah diingatkan, tetapi semakin memperlakukan partai komunis itu sebagai ’anak-emas’.
Ia pun semakin membawa pusat menjadi semakin sentralistik di satu pihak dan condong daerahisme berbau Jawa di lain pihak.
Yang lebih pedih bagi daerah ialah, sementara pembangunan daerah luar Jawa terabaikan, sebagian besar produk luar Jawa (tambang, perkebunan dan produk lokal lainnya) dikuras untuk diangkut ke pusat atau ke Jawa.
Begitu pula halnya kebanyak jabatan sipil dan militer tingkat tinggi, baik di pusat maupun di daerah diisi oleh orang Jawa.
Perasaan diperlakukan dikriminatif, tidak adil menyulut sentimen anti-Jawa.
Wapres Hatta pun gerah dengan prilaku politik Sang Presiden yang makin semena-mena dan tak terkontrol lagi, sehingga ia minta mundur dari kursi Wapres tahun 1956.
Kemunculan PRRI dapat dilihat sebagai puncak pernyataan ketidakpuasan dari dewan-dewan perjuangan di luar Jawa ? dengan nama berbeda-beda di masing-masing daerah ? terhadap rejim Sukarno di Jakarta yang semakin otoriter dan yang didukung PKI.
Dewan-dewan perjuangan di luar Jawa itu sudah lama memperingatkan agar Sukarno kembali ke jalan konstitusi, tetapi rupanya tidak diindahkan.
Puncaknya, ya itu tadi: lahir PRRI.
Dewan-dewan luar di Jawa itu menyatukan barisan, lalu megeluarkan peringatan keras (ultimatum) tanggal 10 Februari 1958 dan lima hari kemudian mereka medeklerasikan lahirnya PRRI.
Di situ, sekali lagi, Sjafruddin Prawiranegara tampil ke depan memimpin RI sebagai ’pemerintahan tandingan’ atas RI pimpinan Sukarno di Jakarta.
Peringatan keras dari dewan daerah itu bukannya ditanggapi dengan jalan dialog dan berunding, tetapi dengan memerangi PRRI.
Kelompok militer, yang dikirim pusat, sebagian sudah disusupi PKI, menyerbu kedudukan PRRI tanpa ampun.
Semua angkatan (darat, laut dan udara plus kepolisian dan brimob) dikerahkan.
Kedudukan PRRI di Padang, Bukittinggi, dan Riau dibombardir.
Pada saat yang sama rekan-rekan mereka di dewan daerah di Sulawesi (Permesta), yang sudah bergabung dengan PRRI juga mengalami pukulan yang sama.
Menurut catatan sejarah, inilah eksperimen militer terbesar pertama paska perang kolonial.
Sejak itu terjadilah ”perang saudara”, sesama pejuang yang tadinya sama-sama melawan musuh bersama: Belanda.
Rejim Jakarta menamakan PRRI sebagai ’pemberontakan’, sementara pihak PRRI menyebutnya sebagai ikhtiar terakhir atau koreksi total terhadap ’rejim inkonstitusional’.
Tergantung dari sudut pandang mana istilah itu digunakan.
Istilah yang netral secara akademik adalah ”perang saudara ” (civil war) karena masing-masing merasa yakin tengah memperjuangkan (ideologi) RI.
Tidak ada klaim pemisahan dalam perjuangan PRRI.
Apa lagi menegasikan simbol-simbol kenegaraan, konsititusi, bendera dan bahkan juga tidak ada klaim wilayah di dalamnya.
Aktor dan Sistem dalam kedua peristiwa itu, PDRI dan PRRI, aktornya sama: Sjafruddin Prawiranegara sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi dalam suasana dan sistem yang sama sekali berbeda.
Dalam peristiwa pertama (PDRI) Indonesia berada dalam suasana ”perang kolonial”, melawan musuh bersama: Belanda.
Penjajah itu ahirnya bisa diusir dari bumi Indonesia setelah dipaksa menyerahkan kedaulatan Indonesia di penghujung 1949.
Dalam peristiwa kedua (PRRI), yang terjadi pada dasarnya ialah ’perang-saudara’ antara sesama pejuang yang berseberangan jalan.
Yang satu menjadi pendukung rejim Sukarno, umumnya Jawa (tidak termasuk Sunda); yang lainnya mendukung PRRI.
Dalam kedua pemerintahan itu kata RI tetap dipertahankan, karena yang digugat pengikut PRRI ialah sistem pemerintahan yang otoriter dan mentaliteit feodal pusat dan banyak perangai politiknya yang sudah keluar dari cita-cita kemerdekaan atau konstitusi.
Di mata pembela PRRI, rejim Jakarta seakan-akan memutar bandul sejarah kembali ke sistem kolonial.
Apa pun namanya, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin dan lain-lain, tetapi kalau prilaku politiknya masih berlaku diskriminatif, menggantung daerah, ketidak-adilan dan terlebih lagi eksploitatif terhadap rakyat daerah, itu tetap kolonial namanya.
Pastilah ada sesuatu yang salah dengan pemerintah pusat di Jakarta dan itu telah diingatkan berulangkali. Namun tetap buntu.
Maka tidak heran jika tahun 1950-an adalah tahun-tahun ’pergolakan daerah’.
Antara tahun 1950 sampai awal 1960-an, tercatat setidaknya 8 (delapan) gerakan perlawanan menentang pusat.
Masing-masing memiliki karaktersitik berbeda-beda, baik latar belakang, maupun proses dan tujuan akhirnya.
Dan PRRI hanyalah salah satu daripadanya.
Suatu hal yang pasti ialah bahwa PRRI bukan gerakan saparatis dan bukan pula pemberontakan untuk menumbangkan dasar-dasar negara, melainkan gerakan koreksi total terhadap rejim otoritarianisme.
Dalam sistem semacam itu, yang berlaku hanyalah adagium ”the king do no wrong” (penguasa selalu benar).
Maka setiap kritik yang diarahkan ke sumbu kekuasaan akan berbalik jadi boomerang.
Tetapi Sjafruddin dengan dukungan pemimpin sipil dan militer serta rakyat di daerah, adalah tokoh pemberani yang konsisten; tidak peragu dan sigap dalam mengambil keputusan di saat kritis.
Dialah pemimpin sejati, yang merepresentasikan kerbau Minangkabau yang tangkas dalam legenda sejarah kampung halaman orang Sumatera Barat itu.
Sjafruddin, seperti halnya dengan para pemimpin PRRI dan rakyat daerah yang berada di belakangnya, masih tetap berpegang teguh pada pemikiran bahwa setelah merdeka, Indonesia harus menjadi bangsa yang ‘modern’, dalam arti sejajar dengan Barat dan bukan feodalisme baru yang kian marak.
Bahasa Pak Syaf, demikian panggilan akrabnya, selalu menekankan ide-ide progresif menentang feodalisme, keharusan adanya mobilitas sosial yang radikal, tetapi mengapa keadaan sedemikian runyam?
Kesalahan itu tentu tak sepatutnya ditimpakan kepada pusat semuanya.
Hanya saja mengapa bangsa yang baru merdeka itu harus menyelesaikan urusan dengan berperang dan bukan berunding cara Minangkabau?
Salah satu jawabannya sistem politik rejim otoritarianisme yang tak mau mendengan aspirasi akar-rumput.
Pembelajaran Sejarah
Bagaimanakah kita harus mencermati kembali pengalaman sejarah bangsa yang paradoks itu?
Yang satu, PDRI, kisah heroik yang menyelamatkan RI dari kehancurannya, sehingga ia pantas diperingati sebagai “hari bela negara”, seperti yang telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2006 lalu itu.
Yang lain, PRRI, kisah tragis, yang menurut pelakunya juga untuk menyelamatkan RI dari tirani kekuasaan rejim pusat yang menindas, tetapi gagal.
Jika hampir semua pihak menyesali terjadinya konflik bersenjata sesama saudara setanah air, yang amat serius itu, baik pada masa itu, maupun di dibelakang hari, pihak manakah yang harus dipersalahkan?
Siapakah sebenarnya yang diuntungkan dan sebaliknya siapakah yang dirugikan? Salah satu jawabannya terletak pada sejarah yang lebih kemudian, yang membuktikan klaim PRRI benar adanya.
Sukarno dan PKI akhirnya harus menerima takdirnya.
Dan PRRI itu sendiri dalam satu lain hal adalah Reformasi avant le latere, reformasi yang kelewat dini, mendahului zamannya.
Kini setelah puluhan tahun berlalu, di saat akal sehat kita mulai pulih, sejarah yang benar mestinya tidak ditentukan oleh rejim yang berkuasa, sebab rejim terus berubah, dan kriteria nilai siapa sang pemenang dan pecundang juga mengalami perubahan.
Tetapi dengan politics of memory yang memberi ruang pada ingatan kolektif, atau ingatan publik (vernacular memory).
Dalam konstruksi semacam itu, ukuran ketokohan seseorang bukan didasarkan pada konsesus politik sang pemenang, terlembaga dan diperingati secara reguler, melainkan pada penggalian pengalaman pelaku (tangan pertama), biasanya dalam lingkup komunitas yang lebih luas dan karena itu lebih intim dan lebih otentik.
Dalam konstruksi semacam itu, penghargaan terhadap tokoh tak lagi sekedar menjadi "ruang hening cipta" dalam upacara, melainkan untuk meluaskan batin kemanusiaan kita dalam menatap masa depan peradaban bangsa yang telah diperjuangkan para pahlawan di masa lalu

Sabtu, 28 April 2012

Mr. Syafruddin Prawiranegara,Presidenyang terlupakan sedjarah.

 


Dalam sejarahnya, Negara Indonesia pernah mengalami pergantian sistem pemerintahan. Dari kesatuan berubah menjadi serikat dan berubah kembali menjadi kesatuan hingga kini.
Demikian juga dengan pemimpinnya atau presidennya. Selama 63 tahun berdiri sebagai Negara, telah terjadi berkali-kali pergantian pemimpin di Indonesia. Mulai dari ir. Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono sekarang.

Sebagai penjabat presiden,umumnya orang Indonesia hanya mengenal Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putrie dan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal masih ada dua lagi presiden Indonesia dan jarang sekali disebut. Yakni Syafrudin Prawiranegara dan Mr. Asaat.

Dua orang ini pernah menjabat sementara ketika eranya Soekarno. Syafrudin Prawiranegara menjabat Presiden/ketua PDRI (Pemerintahan DaruratRepublik Indonesia) ketikaSoekarno dan M. Hatta ditawan Belanda dan ketika ibukota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Agar pemerintahan tetap eksis dan berjalan, akhirnya dibentuklah PDRI dengan Syafrudin Prawiranegara sebagai penjabat presiden.Syafrudin menjabat Presiden Indonesia Darurat sejak 19 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949.
Tak banyak catatan yang bisa dinukil dari Mr. Asaat. Apalagi setelah PKI semakin besar dan punya pengaruh kuat kepada Soekarno. Nama Mr. Asaat seolah hilang dari hingar bingar politik masa itu. Ia tercatat pernah menjabat sebagai ketua KNIP dan lama tinggal di Yogyakarta.Mr. Asaat menjabat Presiden sejak 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950. Selama menjabat presiden ia menandatangi statuta pendirian Universitas Gadjah Mada. Namanya kembali mencuat saat ia bergabung dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Indonesia) dan ditangkap. Dia diadili dan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara atas dakwaan makar. Pria sederhana ini meninggal dunia pada tahun 1976 di rumahnya yang sederhana di Warung Jati, Jakarta Selatan.

Jumat, 27 April 2012

Sejarah Tan Malaka di Balik Lemari

 
July 28, 2008
Oleh: Febrianti/PadangKini.com
PADA pagi yang masih berkabut di Bukittinggi, kami bersiap berangkat mengunjungi rumah Tan Malaka di Pandan Gadang, Limapuluh Kota, sekitar 80 kilometer ke arah utara Bukittinggi.
Saya duduk di sebelah sejarawan Belanda Harry A. Poeze, seorang peneliti yang mencurahkan waktu selama 30 tahun untuk Tan Malaka. Teman seperjalanan lainnya adalah Zulhasril Nasir, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Roger Tol, direktur KITLV Jakarta dan Eri Ray, seniman Padang yang kami tumpangi mobilnya.

Sementara di belakang, dengan bus pariwisata, ada 28 peserta lain yang akan mengunjungi rumah Tan Malaka, di antaranya sejarawan Mestika Zed, mahasiswa sejarah, mahasiswa seni, dan guru. Keluarga Tan Malaka memperingati 59 tahun kematian pejuang revolusioner itu tepat 21 Februari lalu.
Mobil dan bus mulai beriringan keluar dari halaman hotel tempat kami menginap. Tiba-tiba Harry Poeze berkata kepada Eri Ray.
“Bisakah kita sebentar ke sekolah Tan Malaka, saya ingin melihat lagi sekolah itu dan ambil beberapa gambar,” katanya.
Mobil berbelok ke SMA Negeri 2 Bukittinggi, sementara bus terus melanjutkan perjalanan ke Pandan Gadang. Gedung sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School masih kokoh berdiri, kini berubah menjadi SMA Negeri 2 Bukittinggi.
Dulunya sekolah ini juga dinamai Sekolah Raja, karena hanya anak-anak Belanda dan anak bangsawan pribumi atau anak orang kaya yang bisa bersekolah di tempat ini, salah satunya Tan Malaka.
Tan Malaka sekolah di Kweek School selama enam tahun dan lulus dengan nilai baik, karena dia anak terpintar dari semua teman sekolahnya. Ia lalu melanjutkan sekolahnya ke Belanda.
Harry A. Poeze turun dan memeriksa dinding ruang guru mencari-cari sesuatu.
“Saya mencari prasasti sekolah ini dan prasasti yang menerangkan tentang Nawawi Sutan Makmur yang pernah menjadi satu-satunya guru pribumi di tempat ini,” kata Harry.
Prasasti yang dicari-cari akhirnya ketemu. Prasasti yang menempel di dinding yang menerangkan pendirian Kweek School tahun 1873-1908. Sementara itu satu prasasti lagi yang menerangkan tentang Engku Nawawai Sutan Makmur yang pernah menjadi guru di Kweek School tersembunyi di balik lemari.
Melihat itu, Zulhasril Nasir, penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau geleng-geleng kepala.
“Ini aset lho Pak Guru, kok malah ada di balik lemari, harusnya kita hargai, ini malah orang Belanda yang lebih menghargai bangsa kita,” sindirnya kepada guru-guru yang ada di ruangan itu.
Asrama Tan Malaka Menjadi Asrama Polisi
Kepala SMA Negeri 2 Bukittinggi Muslim mengatakan kepada Harry Poeze, ia sendiri tidak tahu sejarah sekolahnya. Harry tersenyum mendengarnya. Budi Fitriza, guru sejarah sekolah itu malah bercerita, pernah memberi tugas kepada siswanya untuk menuliskan sejarah sekolah itu, dan siswanya membuat laporan berdasarkan bahan di internet.
“Beri alamat email Anda, nanti saya kirimkan foto-foto sekolah ini dan sejarahnya dari Belanda, sekolah ini pantas ditukar namanya menjadi Sekolah Tan Malaka,” kata Harry.
Dari informasi Kepala Sekolah diketahui, asrama yang pernah ditempati Tan Malaka saat bersekolah dulu masih ada, tapi kini sudah menjadi asrama polisi di belakang sekolah.
“Saya senang, sekolah ini masih tetap berdiri, tidak hancur karena perang dan gempa bumi, padahal sudah satu abad, luar biasa,” kata Harry saat kami keluar dari gerbang sekolah.
Kami meneruskan perjalanan ke Payakumbuh sambil memakan kerupuk sanjai, dakak-dakak, dan paniaram, makanan khas Payakumbuh. Harry Poeze mencicipi sepotong paniaram, kue yang terbuat dari tepung beras dan gula aren.
“Rasanya mirip salah satu kue di Belanda,” kata pencinta masakan Indonesia ini.
Harry beruntung karena salah satu anak lelakinya punya istri orang Indonesia dan kini tinggal di Surabaya.
“Tiap ke sini saya diundang makan masakan tradisional Indonesia di rumah mereka,” katanya.
Perjalanan mengunjungi kampung halaman Tan Malaka bagi Harry Poeze juga seperti menapaki jejaknya sendiri. Saat pertama kali berkunjung, pada 1976 ia datang bersama istrinyam Henny Poeze untuk memulai penelitiannya ke kampung Tan Malaka.
“Waktu itu saat sampai di Suliki, sekitar 10 km dari Pandan Gadang, kami bertemu dua serdadu dan melarang kami ke Pandan Gadang, serdadu itu mengatakan desa itu terlarang dimasuki, tetapi saya dan Henny berpura-pura menjadi turis biasa yang tidak tahu bahasa Indonesia, akhirnya kami berhasil ke Pandan Gadang,” kenang Harry.
Di rumah Tan Malaka ia bertemu dengan keponakan Tan Malaka yang menempati rumah tua itu. Di kampung itu ia menggali masa kecil Tan Malaka dengan penduduk yang masih mengenal tokoh itu.
Jejak Tan Malaka di 2 Benua
“Tan Malaka orang yang luar biasa dan petualangannya sangat menarik, saya harus melintasi 2 benua dan 11 negara untuk mencari jejak sejarahnya, jejaknya ada di mana-mana,” kata Harry memberi alasan ketertarikannya kepada Tan Malaka.
Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk meneliti Tan Malaka. Termasuk 10 tahun untuk menulis buku Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 yang diluncurkan Juli tahun lalu dalam bahasa Belanda.
Sedangkan dalam bahasa Indonesia saat ini masih diterjemahkan dibagi dalam 6 jilid. Jilid pertama menurut Harry direncanakan akan terbit tahun ini.
Dari Payakumbuh, kami melewati Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota. Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang.
Keluar dari Kota Payakumbuh, pemandangan pedalaman Ranah Minang yang asri mulai terhampar di depan mata. Roger Tol tak berhenti berdecak kagum. Pemandangan yang kami lewati memang amat menawan, lembah dengan sawah yang menghijau terbentang di kaki bukit, dipagari pohon-pohon kelapa. Di belakangnya berlapis-lapis bukit hijau dan biru menjadi latar yang indah ditambah dengan langit berawan putih di atasnya.
“Ini seperti sorga, kenapa Tan Malaka meninggalkan tempat seindah ini?” kata Roger Tol kepada Harry.
Harry tersenyum memandang ke luar jendela. “Dia kan harus pergi merantau,” jawabnya.
Sampai di Pandan Gadang kami disambut keluarga besar Tan Malaka yang mengenakan pakaian adat. Henri, seorang keluarga keturunan Tan Malaka dari garis ibu kini mewarisi gelar Datuk Tan Malaka yang menambah panjang namanya menjadi Henri Datuk Tan Malaka. Ia mengenakan pakaian datuk kuning terang.
Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis ‘Tan Malaka’. Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.
Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, dan berair jernih. Di depan rumah menjulang bukit yang hijau ditumbuhi pohon dan perdu.
Acara Tanpa Bantuan Pemerintah
Untuk memperingati kematian Tan Malaka, keluarga besarnya menggelar tahlilan selama satu jam. Keluarga besar Tan Malaka, KITLV dan Pusbitdem (Pusat Studi Penerbit dan Pustaka Demokrasi) menggelar acara ini tanpa bantuan pemerintah. Sehari sebelumnya, mereka juga menggelar seminar di Bukittinggi tentang Tan Malaka.
“Kita mencoba menanam benih, mudah-mudahan ini tumbuh besar,” kata Asmun A. Sjueib, ketua panitia.
Diawali dengan pantun petatah petitih Minangkabau dan irama talempong, museum sederhana itu diresmikan oleh Direktur Nilai Sejarah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Magdalia Alfian.
Enam bulan lalu rumah ini masih dihuni Indra Ibnur Ikatama dan keluarganya. Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka.
Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin. Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah.
Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.
“Rumah ini dibangun sejak 1826, namun Tan Malaka lahir di rumah surau yang kini sudah menjadi sawah, saat dia diangkat menjadi datuk, baru dibawa ke rumah ini,” kata Ani Zarni salah seorang keluarga Tan Malaka.
Harry Poeze disambut bak teman lama keluarga. Semua keluarga Tan Malaka sudah mengenalnya. Ia menyerahkan bukunya yang beratnya 5 kilogram itu untuk koleksi pustaka.
“Pak Harry sering ke rumah saya di Jakarta, dan tiap kali makan masakan Minang selalu minta catatkan resepnya,resep rendang, resep pangek ikan, pokoknya apa saja yang baru saya disuruh catat,” kata Anna Yuliar, adik Ani Zarni.
Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ruang tamu dan ruang keluarga terlihat sudah menyatu tanpa sekat. Di dalamnya kini ada lemari kaca yang menyimpan buku-buku Tan Malaka dan buku-buku yang membahas Tan Malaka. Koleksi lainnya adalah baju Tan Malaka saat menjadi datuk, piringan hitam dan pemutarnya, tempat tidur dan foto-foto Tan Malaka.
Menurut Ani Zarni, pada masa pemberontakan PRRI, rumah gadang ini pernah menjadi dapur umum untuk pejuang PRRI.
“Saya masih ingat saat itu berumur 10 tahun, kami lari ke bukit dan saya dipaksa menembakkan senapan dari atas bukit,” kata Ani Zarni.
Buku-bukunya Dibakar
Dimasa itulah buku-buku dan barang pribadi Tan Malaka terpaksa banyak yang dibakar, untuk menghilangkan jejak agar tidak disangka pemberontak.
Untuk memastikan kematian Tan Malaka, keluarga Tan Malaka sudah sepenuhnya menyerahkannya kepada Harry Poeze untuk mengurusnya.
“Tahun lalu saya sudah tanyakan tentang kemungkinan pembongkaran kuburan yang kita duga kuburan Tan Malaka, dan pihak keluarga sudah setuju, Menteri membentuk tim, tapi sampai kini masih belum ada penyelesaian,” kata Harry.
Sejarawan Mestika Zed yang ikut dalam rombongan, mengaku terkesan melihat rumah Tan Malaka karena ini kedatangannya yang pertama.
“Saya termasuk orang yang kelam jalan ke sini, dan tempat ini sangat indah, sebuah lembah yang punya ruangan yang sangat sehat dan lingkungan yang jarang didapat, saya terkesan dengan lingkungan ini, tapi juga punya korelasi dengan si tokoh dalam arti memberikan inspirasi untuk seorang tokoh, saya kira lingkungan seperti ini akan melahirkan generasi yang sehat karena lingkungannya enak,” katanya.
Lewat tengah hari kami pulang. Harry mengaku senang sekali karena rumah Tan Malaka kini sudah dijadikan museum.
“Berarti ada kemajuan dan lebih mudah mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan Tan Malaka,” katanya.
Dalam perjalanan pulang beberapa kali ia minta berhenti dan memotret kampung halaman Tan Malaka yang indah itu. (febrianti)

Selasa, 17 April 2012

"SEKILAS TENTANG DEMOKRASI TERPIMPIN DAN EKONOMI TERPIMPIN


"SEKILAS TENTANG DEMOKRASI TERPIMPIN DAN EKONOMI TERPIMPIN" yang kerap kali ditanyakan oleh Kaum Mahasiswa, Kaum Buruh, Kaum Tani, Kaum Nelayan bahkan Kaum Pengusaha Nasional yang berjiwa Nasionalis dalam berbagai pertemuan, dialog dan seminar terbatas yang biasanya tidak terliput oleh Media Massa Nasional yang hampir sebagian besar telah dikuasai oleh Kaum Kapitalis/Liberalis. Namun hanya melalui beberapa goresan tangan dan pikiran Alhamdulillah melalui media sosial Facebook ini dapat saya menulis karya dan pokok2 pikiran dari sebagian kecil Ajaran2 Ayahanda Bung Karno khususnya sekilas tentang Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin. Walaupun saya sadari bahwa Penyelenggara Facebook ini juga adalah bagian dari Kaum Kapitalis internasional, namun hebatnya mempunyai jiwa yang besar dan jiwa sosial kemanusiaan yang tinggi. Bahwa membahas Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin tentu tidak dapat dilepaskan sama sekali dengan kata "Gotong Royong" yang merupakan suatu pernyataan perasaan dan pengertian demokrasi yang tinggi dari Bangsa Indonesia. Perasaan kekeluargaan dan kemasyarakatan sebagai sendi2 Masyarakat demokratis dan sosialistis tercermin dengan jelas dalam pengertian dan praktek Gotong Royong. Sebab itu Bung Karno seringkali menyinggung dalam Pidatonya tentang lahirnya Pancasila membuktikan bahwa apabila Pancasila itu diperas menjadi Ekasila yang isinya adalah Gotong Royong. Kita semua mengetahui bahwa Pancasila adalah dasar negara kita. Dengan lain perkataan dasar Negara adalah "Gotong Royong." Inilah hakekatnya apa yang disebut "Sosialisme Indonesia", yakni Sosialisme yang sesuai dengan keadaan2 di Indonesia. Jadi kalau kita akan membicarakan soal politik dan ekonomi Indonesia, tidak boleh tidak tentu kita harus membicarakan soal yg hakiki, gotong royong atau Sosialisme ala Indonesia tersebut. Apa hubungannya uraian singkat ini dengan demokrasi dan ekonomi terpimpin? Hubungannya erat sekali bahkan "mutlak adanya." Demokrasi Terpimpin adalah "pelaksanaan politik" sedangkan Ekonomi Terpimpin adalah "pelaksanaan ekonomi" daripada paham "Gotong Royong." Demokrasi Terpimpin adalah cermin daripada Ekonomi Terpimpin di lapangan politik. Singkatnya bahwa penjelasan dan pelaksanaan2 politik dan ekonomi di atas dasar PANCASILA atau Ekasila (Gotong Royong) adalah merupakan suatu Masyarakat yang adil dan makmur. Jadi perkataan "Terpimpin" adalah lawan daripada perkataan "Liberal." Kedaulatan Rakyat sebagai Sila Ke empat daripada Pancasila adalah sumber pengertian demokrasi di Indonesia, sedangkan Pasal 33 UUD 1945 adalah "sumber pelaksanaan ekonominya." Menggunakan istilah demokrasi terpimpin adalah perlu "untuk mencegah penyelewengan demokrasi dan ekonomi menjadi "liberal" atau semau-maunya dan untuk mencegah praktek dan penafsiran yang sewenang-wenang untuk menyengsarakan dan memiskinkan Rakyat kebanyakan." Dalam pengertian Gotong Royong yang tersimpul makna yang luas dan dalam mengenai politik ekonomi adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Jadi praktek demokrasi ekonomi terpimpin adalah suatu keadilan dan kemakmuran yang menyeluruh untuk segenap Rakyat Indonesia tanpa terkecualinya. Bung Karno berkata, "Saudara2 harus ingat dan camkan baik2 bahwa segolongan Kapitalis dengan senjata uangnya "dapat membeli demokrasi kita" dan "dapat menguasai ekonomi kita khususnya menjarah dan menggaruk habis2an kekayaan alam Indonesia. Cecunguk2 Pengusaha Nasional kita yang anasionalis yang berkonspirasi busuk dengan Cecunguk2 Pengusaha Asing dus di belakanya adalah Negaranya, dengan menggunakan taktik musang berbulu ayam adalah hanya menguntungkan dan memperkaya mereka sendiri, memperkaya Bangsa Asing tapi sebaliknya memiskinkan Rakyat Indonesia dan menghancurkan ekonomi Indonesia. Cara seperti itu jelas bukan Gotong Royong, tetapi "penindasan" sekali lagi saya katakan sebagai penindasan terhadap Rakyat Pekerja kita (Kaum Buruh Industri dan Kaum Buruh Tani) oleh golongan2 yang memiliki modal (kapital) dengan tindakan mereka yang sewenang-wenang. Itu adalah cara2 "Nekolim" yang mau berusaha lagi menjajah Bangsa Indonesia tapi dengan cara menjajah perekonomian kita. Itu sebab saya berkali-kali katakan kepada Saudara2 bahwa betapa berbahaya taktik dan cara2 Nekolim tersebut. Bahkan suatu saat mereka akan berusaha mematikan dan memadamkan api Revolusi Indonesia dan suatu kelak nanti akan memasang boneka2nya untuk menjadi Pemimpin di Negeri kita ini supaya mempermulus kegiatan2 mereka itu." Jelas di sini bahwa hikmat daripada makna dan hakikat Gotong Royong itu sejatinya dan pada pokoknya "menentang Kapitalisme/Liberalisme dan melawan Imperialisme Ekonomi dalam segala bentuknya (manifestasinya). Bung Karno juga seringkali mengatakan, "bahwa Demokrasi dan Ekonomi Terpimpin bukan sekedar pengertian yang mati tetapi adalah dimanifestasikan ke dalam jiwa perjuangan Bangsa Indonesia yang berusaha melepaskan diri dari penindasan Kapitalisme-Imperialisme dan membina suatu Masyarakat yang adil dan makmur di antara Bangsa2 di dunia secara sama hak, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah." Demokrasi Terpimpin itu adalah demokrasi yang pengakuan adanya "Pemimpin." Bukanlah terpimpin untuk menghilangkan unsur demokrasi, tetapi terpimpin untuk "melawan sifat2 liberalnya daripada demokrasi itu sendiri." Tujuan utama justru menyingkirkan perusak2 demokrasi yang berdalih demokrasi yang dengan demikian berbuat anarkhis dan pengacauan di bidang ekonomi (monopoli swasta di bidang ekonomi dari hulu hingga hilir). Memang atas nama demokrasi harus dihormati hak2 demokrasi daripada Rakyat dengan sumber pengertian demokrasi yang terdapat pada Sila Ke empat dari Pancasila yakni "Kedaulatan Rakyat." Betapapun pengertian demokrasi, tindakan2 yang bertentangan ataupun yang menggaduhkan kepentingan bersama, bagaimanapun dan dalam keadaan apapun bisa ditindak, kalau perlu ditumpas dan jangan ada di Indonesia." Artinya "Terpimpin" menunjukkan pendirian yang tegas dan sikap hidup yang nyata, yakni "memberikan pimpinan kepada Rakyat dan melawan musuh2 Rakyat bersama Rakyat." Dalam bidang ekonomi, pimpinan ini lebih jelas lagi mempunyai sasaran dan perlindungannya. Temanya adalah sama seperti penjelasan mengenai demokrasi tetapi sasarannya lebih konkrit. Sebenarnya Ekonomi Terpimpin adalah "Ekonomi Gotong Royong" yang menjamin kemakmuran Rakyat serta melenyapkan sisa2 Sistem Feodalisme dan Imperialisme dengan penghisapan2nya. Ekonomi Gotong Royong atau Ekonomi Sosialis ala Indonesia adalah "Ekonomi Kemakmuran Bersama," yang "anti Feodalisme dan Imperialisme." Pimpinan dalam taraf pertama adalah untuk menumbangkan Rejim2 yang berbau dan terindikasi Kapitalisme/Liberalisme, dimulai dari Kapitalis2 monopoli dan selanjutnya sehingga pada akhirnya Kapitalisme dalam prinsipnya dapat ditiadakan. Sebab Sistem ekonomi Kapitalistik/Liberalistik tersebut secara demi tahap akan merusak dan menghancurkan ekonomi nasional kita. Pengrusakan tata ekonomi nasional Indonesia dimulai dari perkotaan kemudian sampai ke pedesaan, sehingga segala kebutuhan hidup Rakyat dari kelas atas, menengah sampai kelas bawah "semuanya bergantung pada ekonomi pasar internasional yang dikendalikan oleh Kaum Kapitalis dunia internasional." Artinya tanpa kita sadari bahwa nafas kehidupan seluruh Rakyat Indonesia telah dikuasai oleh Bangsa Asing. Yang sangat mengherankan bahwa Pemerintah kita saat ini justru mengadopsi sistem Kapitalisme/Liberalisme untuk masuk dalam semua perundang-undangan sehingga justru menjadikan "payung hukum" bagi tumbuh suburnya Ekonomi Kapitalistik/Liberalistik yang jelas2 akan menghancurkan ekonomi nasional kita. (bom waktu). Mungkin Pemerintah sekarang ini hanya memikirkan kepentingan oknum2/individu2 mereka dan Konco2nya dan tanpa memikirkan nasib dan kepentingan Rakyat kebanyakan yang semakin hari hidupnya semakin miskin melarat dan tinggal menunggu mati kelaparan atau mengadakan Revolusi Sosial untuk turun ke jalan2 dengan alasan meminta makan karena perut lapar. Kalau sebaliknya Pemerintah kita saat ini memakai atau menggunakan "Sistem Ekonomi Terpimpin atau Sistem Ekonomi Gotong Royong atau Sistem Ekonomi Pancasila atau Sistem Ekonomi Sosialis ala Indonesia, yang diselenggarakan sesuai dengan kaidah2 di Indonesia maka jelas Rakyat akan memperoleh kedaulatan dan keadilan di bidang ekonomi dimaksud. Rakyat bisa menikmati bersama-sama dan merasakan atau mencicipi hasil kekayaan alam Indonesia dan bukan sebaliknya seperti keadaan sekarang ini yang hanya dinikmati oleh Pengusaha2 Nasional yang merupakan "Boneka atau kaki tangan" atau "perpanjangan tangan" dari Pengusaha2 Asing yang sebenarnya mengatas namakan Negaranya (modal berasal dari Pemerintahannya) sehingga otomatis hanya memperkaya Bangsa2 Asing dan bukan memakmurkan Bangsa/Rakyat Indonesia. Pemerintah kita saat ini harus ingat dan camkan bahwa paham dan pelaksanaan Ekonomi Gotong Royong dimaksud tidak akan pernah menjadi usang dengan kemajuan jaman. Sebab Gotong Royong dalam politik dan ekonomi inilah yang tetap mempertahankan kesatuan yang kokoh dan persatuan yang bulat daripada Bangsa Indonesia. Sekali lagi mengutip kata2 Bung Karno, "bahwa untuk mengatasi rintangan2 dalam pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin maka "jiwa dan semangat Revolusioner dari seluruh Rakyat Indonesia harus dipersegarkan dan dikobar-kobarkan lagi" sebab tujuan Revolusi Indonesia harus digariskan lebih nyata dan jelas selain pada bidang kebudayaan, sosial dan politik terutama di lapangan ekonomi. Itulah sebabnya mengapa demokrasi dan ekonomi Indonesia tidak boleh Liberal, tetapi harus terpimpin. Sebab dipimpin oleh semangat Revolusi dan tujuan Rakyat yang revolusioner dann oleh Pemimpin Revolusi yang sejati." Akhirnya disimpulkan di sini bahwa hikmat daripada pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin adalah mewujudkan suatu Masyarakat sosialis gotong royong, sosialisme ala Indonesia, masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. # (Dipersembahkan oleh Dr. Gempar Soekarnoputra,S.H, diambil dari beberapa cuplikan Pidato Ayahanda Bung Karno terkait dengan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin).

Sabtu, 07 April 2012

APBN biayai operasional parpol


MEDAN – Peneliti Divisi Korupsi Politik ICW (Indonesian Corruption Watch), Apung Widadi   mengatakan dari sembilan partai politik yang mendapatkan subisidi dana dari APBN, tiga parpol diantaranya tidak menganggarkan untuk biaya pendidikan partai politik.

Tiga parpol yang tidak menganggarkan dana subsidi APBN untuk kepentingan pendidikan politik itu yakni Partai Golkar, PDIP dan PPP.Data yang diperoleh ICW, dana yang diperoleh PDIP dari APBN mencapai Rp1,574 miliar, Partai Golkar mencapai Rp1,623 miliar, PPP mencapai Rp598 juta, Partai Demokrat sebesar Rp2,338 miliar, PKS sebesar Rp886 juta, PAN sebesar Rp677 juta, PKB sebesar Rp556 juta, Partai Gerindra sebesar Rp517 juta dan Partai Hanura sebesar Rp501 juta.

Berdasarkan pasal 22 Permendagri No 24 Tahun 2009, bantuan keuangan partai politik digunakan sebagai penunjang kegiatan partai politik dan operasional sekretariat parpol. Namun ketiga partai politik tersebut lebih banyak menghabiskan subsidi dari APBN itu untuk membayar staff sekretariat dan operasional sekretariat.

“Hal tersebut dinilai melanggar Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No 24 Tahun 2009 tentang pedoman tata cara penghitungan, penganggaran dalam APBD, pengajuan, penyaluran dan laporan pertanggungjawaban penggunaan bantuan keuangan partai politik,” kata Apung.

Menurut Apung, pengeluaran terbesar Partai Golkar, PKS, PDIP dan PAN digunakan untuk biaya telepon, sementara Demokrat untuk rapat internal sekretariat, PKB untuk biaya pemeliharaan data dan arsip serta pengeluaran terbesar PPP dan Gerindra untuk gaji pegawai.

“Tetapi, PKS, PAN, PKB, Partai Gerindra, dan Demokrat masih menyisihkan subsidi APBN tersebut untuk pendidikan politik. Porsinya pun masih terhitung sedikit. Sementara Partai Hanura tidak menyerahkan laporan penggunaan subsidi APBN itu kepada publik,” imbuh Apung.

Di tempat yang sama, Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Abdullah Dahlan mengatakan, berdasarkan Permendagri itu seharusnya dana APBN digunakan untuk kepentingan partai politik, bukan sebagian besar digunakan untuk operasional sekretariat. Ia pun mendukung PAN yang telah menganggarkan subsidi APBN untuk pendidikan partai. PAN menganggarkan dana untuk pendidikan politik paling besar dibandingkan partai lainnya, kata Dahlan.


Sementara itu, Dahlan juga menyayangkan sikap Partai Hanura yang tidak menyerahkan laporan penggunaan dana APBN kepada publik, dalam hal ini ICW.

Editor: ANGGRAINI LUBIS