Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

"PRAHARA DI TUBUH PDI-P PASCA 'MASUKNYA' JK"


Fb @MATANEWS.com
Kita bahas gejolak di PDIP terkait penetapan JK sbg cawapres Jokowi ..
1. PDIP bergejolak, ancaman perpecahan timbul, lebih parah dibandingkan saat Megawati enggan capreskan Jokowi Maret lalu
2. Gejolak perpecahan PDIP disebabkan penetapan JK sbg cawapres Jokowi. Kubu Faksi Partai Kristen Indonesia (Parkindo) tidak setuju. Protes
3. PDIP merupakan partai fusi (hasil gabungan) Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Nasional Indonesia (PNI), Murba, dan partai lain
4. PDIP selama ini dianggap sebagai RUMAH BESAR partai nasionalis dan kristen. Di PDIP ada faksi2 atau kubu2 yg selama ini akur harmonis
5. Secara ideologis, PDIP partai tengah kiri (nasionalis, sosialis komunis, kristen). Komposisi pengurus harian DPP PDIP kombinasi unsur2
6. Dari 27 pengurus Harian DPP PDIP : 13 islam, 13 non islam, 1 Megawati. Seimbang. Megawati dan alm TK menjaga keseimbangan itu
7. Sejak awal PDIP kurang kompak dalam mengusung Jokowi, kubu nasionalis (dipimpin Puan Maharani) tdk setuju dgn pencapresan Jokowi
8. Pasalnya, Jokowi diorbitkan popularitas dan elektabilitasnya melalui rekayasa faksi Parkindo (kristen) yang diotaki James Riady cs
9. Puan cs (faksi terbesar di PDIP), khawatir Jokowi hanya dijadikan boneka dan batu loncatan faksi kristen utk menggusur dinasti Bung Karn0
10. Namun, Puan & Mega akui bahwa akibat bantuan James Riady - Stanley B Greenberg - China Connection - Arkansas Connection, PDIP berjaya
11. Promosi besar2an Jokowi dgn biaya triliunan rupiah, dibantu oleh Greenberg ahli pollster dan konsultan politik No. 1 dunia, efektif
12. Kubu Parkindo / Kristen di PDIP sudah di atas angin dan merasa akan dengan mudah memenangkan pilpres dgn usung Jokowi. Namun, tiba2 …
13. Tiba2 JK dan kubu katolik manuver dengan meminta bantuan Paus Fransiskus untuk mendesak Obama, tekan James Riady, buka akses ke Jokowi
14. Umat Katolik terutama elit katolik Indonesia merasa resah dengan dominasi dan kendali James Riady cs dan Faksi Kristen terhadap Jokowi
15. James Riady, agen China Millatary Intelligence dan sahabat karib Clinton, anggota arkansas connection adalah penganut kristen evangelis
16.James masuk kristen evangelis pada tahun 1990, dibina langsung oleh Pat Robertson, tokoh evangelis, kristen fundamentalis No. 1 di AS,
17. Pengaruh James Riady di AS sangat kuat, dia donatur utama Presiden Clinton dan Obama melalui China Global Resources Ltd di Hongkong
18. Ingat skandal Lippo Gate di AS yang menggoncang dunia dimana James Riady ketahuan menyumbang jutaan US$ Ilegal utk kampanye Clinton ?
19. Sumbangan ilegal ke kampanye Clinton (lippogate) itu berasal dari China Global Resources Ltd (perusahaan kedok Intelijen militer china)
20. Meski dihukum denda US$ 8.6 juta dan dilarang masuk ke AS selama 2 thn, Clinton kemudian memberikan amnesti kepada James Riady
21. James sangat kuat lobi dan pengaruhnya di Partai Demokrat AS, apalagi pemerintahan Obama didominasi elit Arkansas Connection
22. Lobi &pengaruh James Riady juga cukup kuat di Partai Republik karena Pat Robertson, mentor kristen evangelis James adalah tokoh Republik
23. Teman kami yang juga deputi BIN Malaysia, pernah mengatakan, “James Riady ada manusia paling berbahaya di dunia”
24. Pada diri James Riady bersatu dua kepentingan raksasa dunia : China dan AS. Pemilu Malaysia tahun lalu jg tdk terlepas dari peran James
25. James juga yang mempertemukan Megawati dan Gus Dus (didampingi alm Matori Abdul Djalil) dengan Madeline Albragiht Menlu AS thn 1999 lalu
26. Saat itu, pertemuan di Singapore, AS melalui menlu Albright menyatakan dukungannya thdp Gus Dur - Mega sebagai capres dan cawapres RI
27. Pada tahun 2012 lalu, kembali James Riady bersama2 Faksi Partai Kristen Indonesia (Sabam, Ara dst) menggalang kekuatan utk dukung Jokowi
28. James direstui antony salim (anak konglo terkaya RI, sudono salim / Liem Sioe Liong) menggalang konglo2, mafia, koruptor BLBI utk Jokowi
29. Dibantu skenario dan strategi oleh Stanley Berhard Greenberg, hasil kolaborasi china - AS - mafia cina RI ini sungguh luar biasa !
30. Jokowi yang tdk jelas asal usulnya, disulap dalam sekejap menjadi tokoh idaman, pujaan, bak nabi dan malaikat dari surga utk Indonesia
31. Hampir semua tokoh mengatakan :
“Jokowi is unstoppable !”
“Jokowi pasti jadi presiden (boneka) !”
32. Jokowi disupport kekuatan politik, uang, jaringan, media dll yang luar biasa besar. “Kolaborasi asing - aseng - antek”
Kami pun gelisah
33. Republik ini tdk boleh jatuh ke tangan boneka dan jongos asing - aseng - antek. Itu harga mati !
Kami mendesak SBY bertindak.
34. Kami mendesak Presiden SBY bertindak menyelamatkan negara dari ancaman neokolonial melalui penciptaan Jokowi sbg capres boneka
35. Kami tanpa kenal lelah dan tdk kenal waktu mendatangi dan melobi satu per satu para tokoh bangsa, menyadarkan betapa bahayanya NKRI
36. Alhamdulillah, puji tuhan, syukur tiada terhingga, Presiden SBY bertindak, tokoh2 bertindak, dan elit katolik bergerak cepat
37. SBY melalui jenderal jusuf iskan mantan Ka Bais mengatakan “belum pernah dlm sejarah, komunitas cina indonesia sesolid sekarang””
38. Elit Katolik Indonesia melobi Paus Fransiskus berhasil mengundang Obama ke Vatikan usai lawatannya ke Ukraina pada 27/3/2014 lalu
39. Paus menyampaikan keprihatinan rakyat RI khususnya umat Katolik Indonesia thdp dukungan luar biasa AS (arkansas connection) thdp Jokowi
40. Paus mencemaskan masa depan umat Katolik Indonesia jika Jokowi dikendalikan dan di bawah hegemoni kristen fundamentalis Indonesia
41. Obama menyerap aspirasi Paus Fransiskus dan berjanji akan mendiskusinya kembali pada 15/4/2014 setelah diadakan pertemuan di Jakarta
42. Pertemuan di Jakarta, utk mendapatkan informasi dan aspirasi rakyat Indonesia seutuhnya diprakarsai dubes vatikan utk Indonesia
43. Semula, Jokowi - Mega - Dubes AS utk RI akan diundang Dubes Vatikan sbg tindaklanjut pertemuan Paus - Obama di Vatikan
45. Namun, rencana tsb dibatalkan, terlalu riskan jika dubes vatikan bertindak sbg pengundang dan tuan rumah. Umat Islam RI akan antipati
44. Namun, rencana tsb dibatalkan, terlalu riskan jika dubes vatikan bertindak sbg pengundang dan tuan rumah. Umat Islam RI akan antipati
45. Untuk menghindari kehancuran popularitas Jokowi jika tuan rumah adalah dubes vatikan, maka sesuai kesepakatan dubes dan tokoh2 katolik,
46. ..pertemuan di lakukan di rumah Jacob Soetoyo, pengusaha katolik, penyantun CSIS. Sbg saksi sekaligus pengelabuan, diundang dubes2 lain
47. Dubes Meksiko diundang sebagai representasi komunitas katolik dunia, Nowergia - Denmark mewakili uni eropa, Turki netral
48. Mahatir diundang hadir atas permintaan JK. JK dekat dgn Mahatir. Mahatir diharapkan punya pengaruh utk perjuangkan kepentingan islam RI
49. Hasil diskusi dan penyampaian aspirasi umat Katolik kepada dubes AS di rumah Jacob Soetojo itu, Dubes AS teruskan ke Presiden Obama.
50. Presiden Obama terlibat diskusi dengan Paus Fransikus pada 15/4/ 2014. Hasil dari pembicaraan dua tokoh dunia itu diteruskan ke Jakarta
51. Dapat diduga, Obama akhirnya meminta James Riady mundur, kurangi kendali thdp Jokowi, buka akses utk elit Katolik ke Jokowi
52. Dapat dipahami besarnya kekecewaan James Riady cs yang telah mempersiapkan Jokowi sbg capres boneka sejak awal 2012 lalu
53. Demikian juga dengan elit2 kristen (sabam, ara, panda cs) sekutu James Riady di PDIP, sangat kecewa karena ditelikung JK & Katolik
54. Ibarat kata pepatah “ Pacaran nan di awak, kawin nan di urang” ..pacaran sama saya, kawin sama orang lain..itulah nasib james, sabam cs
55. Kekecewaan kubu / faksi kristen di PDIP atas restu Obama terhadap Jokowi - JK, meski hanya restu setengah hati, merembet ke akar rumput
56. Pendukung Jokowi dari akar rumput/massa kristen dipelopori aktivis2 kristen fundamentalis seperti Bara JP, Pro Jok, dll senyap seketika
57. Semula pendukung Jokowi dari para aktifis kristen fundamentalis ini sangat militan, solid dan fanatik dukung Jokowi. Hidup mati Jokowi
58. Namun sejak Obama mendesak James cs mundur dan Katolik dibuka akses ke Jokowi, kubu kristen kecewa. Mereka skrg tiarap. Tggu perintah
59. Apalagi dana dan logistik yang semula deras mengalir ke kubu Projok, Bara JP dari konglo2 dan mafia cina, tiba2 terhenti. Kran ditutup
60. Antony Salim dgn Grup Salim dan Bank Mega - nya (Trans Corp) terpaksa deal ulang dng SBY. Antony tarik dukungan dari Jokowi
61. CT proxy Antony dijadikan Menko. TW yg masih sumbang jokowi dan main dua kaki, diberi pesan tegas dgn pengusutan Sentul City oleh KPK
62. Konglo2 cina yg masih membandel mau kuasai RI via si boneka Jokowi diberi pesan tegas melalui kasus BCA oleh KPK. Mafia Cina Skak mat !
63. Dari 27 ormas cina di Indonesia, minggu lalu 17 sdh menarik diri dari Jokowi. Kemarin hanya tinggal 3 ormas cina yg dukung Jokowi - JK
64. Ormas komunitas cina yang dukung Jokowi hanya tinggal ormas berbasis Katolik, dgn panglimanya Sofyan - Rudi - Jusuf Wanandi cs
65. Kubu Kristen di internal PDIP terlihat kecewa berat dan terwakili melalui pernyataan2 Sabam Sirait yang cetuskan ingin mundur dari PDIP
66. Ibarat lagu “kemesraan ini janganlah cepat berlaluu… “ Ara, James dan faksi kristen masih kendalikan penuh Jokowi
67. Sekarang Jokowi malah mesra dengan Jacob Soetoyo, tuan rumah proxy dubes vatikan hehe
68. Apakah Jokowi akan tetap begini? Apakah James tetap jadi majikan Jokowi pasca perseteruan Katolik - Kristen?
69. Akhirnya Jokowi kembali ke pangkuan JK. Akankah Jokowi jadi jongos Jk? Atau bakal dilipat habis oleh JK?
70. Mana suara pendukung Jokowi ? Masak balik badan hanya gara2 Jokowi dikendalikan JK - Wanandi - CSIS ? Loyal donk
71. Jokowi emang diperlu dibina, masak capres nekad plagiat tulisan Romo Benny.... Aduuh biyuuung !! Jok jok !
71. Pendukung Jokowi yakinlah, kalian tdk akan ditipu lagi..mereka ini semua sudah tobat nasuha kok hehehe
72. Gimana Mas Andy ? Masih setia dukung Jokowi kan? Jgn lupa pesan Bapak ya ! Jaga NKRI dengan jiwa dan raga !
73. BY THE WAY kami kangen juga dgn bos jasmev & partaisocmed si KartikaDjoemadi .. Rindu dgn twit2nya yg lucu hehe
74. Pada kemana ribuan akun Jasmev (jokowi advance socmed volunteer) ya? Apa blm dapat sponsor dari Vatikan ya Dee?
75. Kepada JK kami ucapkan terima kasih. Anda hebat, bs kalahkan James Riady.. Ruaar biasa ! Tp jgn kesehatan ya pak
76. Kepada Bang Luhut dan Bang Edo (AMHP) ..tetap semangat ya ..selamat berjuang meski abang berdua ga bisa jd presiden bayangan
77. Kepada Bu Mega, kami maklum pilihan anda sulit. Anda sudah lakukan yang terbaik, demi bangsa, demi rakyat, demi PDIP. Terima kasih


Senin, 31 Maret 2014

NasDem Incar 15 Persen Suara di Jawa Timur

SENIN, 31 MARET 2014 | 14:50 WIB




TEMPO.COSurabaya - Partai Nasional Demokrat menargetkan perolehan suara di Jawa Timur mencapai 15 persen dari 87 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur yang diperebutkan dalam Pemilihan Umum 2014. 

"Kami optimistis target tersebut diraih, apalagi kantong-kantong massa NasDem merata di sebelas daerah pemilihan Jawa Timur," kata Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh saat ditemui wartawan di Hotel JW Marriott Surabaya, Ahad, 30 Maret 2014.

Sebagai partai baru, Surya mengakui bahwa NasDem mempunyai obsesi besar untuk meraih hasil optimal dalam pemilu legislatif 2014. Partai ini harus berhadapan dengan para kompetitor yang memiliki jam terbang tinggi. 

Ada partai dengan ketua umum seorang presiden atau kepala pemerintah. Belum lagi prasarana dukungan lain seperti banyaknya menteri, gubernur, bupati/wali kota, dan anggota fraksi di kabupaten/kota yang terlibat langsung mengkampanyekan partai masing-masing. "Sedangkan NasDem tidak punya apa-apa. Tapi partai baru ini rupanya ada harapan di tengah lorong kegelapan, ada cahaya," ujarnya.

Berbalut gerakan "Restorasi untuk Indonesia", Surya ingin menawarkan sejumlah perubahan jika nantinya terpilih. Di antaranya melakukan amandemen Undang-Undang Dasar 1945; memikirkan dan mengkaji ulang penyelenggaraan pemilihan kepala daerah; serta memperkokoh kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat.

Kehadiran Surya Paloh di Surabaya dalam rangka kampanye terbuka di Gelora 10 Nopember, Ahad, 30 Maret 2014. Ribuan simpatisan dari Jawa Timur menghadiri kampanye tersebut. Turut mendampingi Surya Paloh yaitu Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai NasDem Jawa Timur Laksamana (purnawirawan) Tedjo Edhy Purdjianto, Wakil Ketua NasDem Jawa Timur Mufti Mubarak, dan Ketua DPP NasDem pusat Bidang Agama dan Adat Hasan Aminuddin.

AGITA SUKMA LISTYANTI

Rabu, 26 September 2012

Tamparan Menuju 2014


Rabu, 26 September 2012 | 


ShutterstockIlustrasi


Oleh Saldi Isra

Tanpa harus menunggu perhitungan akhir Komisi Pemilihan Umum Daerah, hasil pemilihan gubernur DKI Jakarta: pasangan calon Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Basuki) menang atas pasangan Fauzi Bowo- Nachrowi Ramli (Foke-Nara).
Bahkan, tak perlu waktu lama pula, Fauzi Bowo pun langsung memberikan ucapan selamat kepada Jokowi. Dalam batas penalaran yang wajar, hasil pemilihan gubernur DKI Jakarta seharusnya dimenangkan oleh pasangan Foke-Nara. Selain posisi Foke yang petahana gubernur DKI Jakarta, pasangan Foke-Nara didukung pula oleh koalisi Partai Demokrat, Golkar, Hanura, PAN, PKB, PBB, PMB, PKNU, PPP, dan PKS. Berdasarkan hasil pemilu anggota DPRD DKI Jakarta 2009, koalisi tambun (over-size) parpol pendukung Foke-Nara ini meraih lebih dari 73 persen suara pemilih.
Sementara itu, masih dalam batas penalaran yang wajar pula, harusnya duet Jokowi-Basuki tak masuk putaran kedua, apalagi memenangi pemilihan. Selain bukan petahana di DKI Jakarta, Jokowi-Basuki hanya didukung oleh PDI-P dan Gerindra dengan dukungan suara kurang dari 16 persen pemilih. Jikalau hanya melihat basis dukungan parpol, capaian Jokowi-Basuki dapat dinilai amat fenomenal.
Dari berbagai perspektif, kemenangan Jokowi-Basuki adalah bentuk kemenangan akal sehat dan sekaligus kehancuran pragmatisme parpol pendukung Foke-Nara. Dikatakan begitu, gejala umum yang berkembang beberapa waktu belakangan, parpol lebih mengandalkan dukungan uang dan kekuasaan daripada figur yang punya pemahaman kuat terhadap kebutuhan rakyat.
Merujuk bentangan fakta hasil pemilihan gubernur DKI, yang perlu dapat apresiasi adalah logika pemilih tak mau ditaklukkan oleh logika parpol. Bahkan, saat parpol berjalan dengan logikanya sendiri, berapa pun banyak dan besarnya koalisi dibangun, pemilih mampu membuktikan, daulat rakyat lebih mangkus dibandingkan daulat parpol.
Apabila diletakkan dalam konteks target yang hendak dicapai dari pemilu, kekalahan Foke-Nara harus dibaca sebagai bentuk hukuman nyata pemilih bagi parpol yang tak peduli dengan suara rakyat. Bahkan lebih jauh dari itu, hasil pemilihan gubernur DKI benar-benar menjadi tamparan hebat di tengah hegemoni parpol menuju Pemilu 2014.
Tetap sentralistik
Hadirnya pasangan Jokowi- Basuki memang terbilang unik. Selain pendatang baru di tengah belantara politik Jakarta, keduanya lebih tepat dikatakan sebagai eksperimen PDI-P dan Gerindra di tengah ”kerumunan” parpol yang sejak semula cenderung merapat ke Foke-Nara. Karena itu, tidak terlalu berlebihan pendapat politikus senior Partai Golkar, Zainal Bintang, hasil Pilkada DKI menunjukkan bulan madu politik pencitraan dan parpol yang hanya berorientasi pada kekuasaan sudah di ujung senja (Kompas, 22/9).
Sebetulnya, tawaran untuk memilih tokoh alternatif tidak hanya bersumber dari duet Jokowi-Basuki. Ketika putaran pertama, Faisal Basri-Biem Benjamin juga hadir sebagai calon alternatif. Dengan adanya calon alternatif yang tidak tunggal, keberhasilan pasangan Jokowi-Basuki membuktikan bahwa calon alternatif masih perlu dukungan mesin yang efektif untuk meraih dukungan pemilih. Tanpa itu, bukan tidak mungkin nasib yang menimpa Faisal-Biem akan berlaku pula kepada Jokowi-Basuki.
Terlepas dari keberhasilan pasangan racikan PDI-P dan Gerindra ini, apabila boleh sedikit menoleh ke belakang, hadirnya pasangan Jokowi-Basuki belum merupakan hasil dari sebuah proses internal parpol yang terbuka dan partisipatif. Dengan posisi itu, hadirnya duet Jokowi-Basuki tetap harus dipandang sebagai bentuk hegemoni parpol dengan proses yang sentralistik (top- down). Untungnya hasil pilihan hegemoni masih bisa diterima pemilih sebagai tokoh alternatif.
Sekiranya Jokowi-Basuki ditawarkan sebagai hasil dari sebuah proses yang terbuka dengan pola yang bottom-up, kehadirannya akan kelihatan lebih elegan dan orisinal. Banyak kalangan berpikir, dengan proses yang partisipatif, parpol dipaksa memiliki pola yang demokratis dalam mengajukan calon guna mengisi jabatan politik strategis, termasuk dalam pengisian jabatan kepala daerah. Tanpa sebuah pola yang baku, hegemoni parpol sulit dipangkas. Dalam proses pemilihan gubernur DKI, misalnya, parpol bisa menawarkan calon alternatif yang diterima rakyat. Namun, karena pola internal yang tidak baku dan tak terbuka, sangat mungkin di tempat lain terjadi perilaku yang sebaliknya.
Menuju 2014
Merupakan pilihan bijak sekiranya kita segera keluar dan meninggalkan euforia kemenangan duet Jokowi-Basuki. Menuju Pemilu 2014, terutama pemilihan presiden (dan wakil presiden), berharap kepada parpol untuk menghadirkan tokoh alternatif sangat mungkin seperti seekor burung pungguk merindukan bulan. Bagaimanapun, sejauh ini belum kelihatan partai membuka dan menyediakan ruang bagi calon alternatif.
Kalau ada yang berpandangan bahwa kemunculan Jokowi-Basuki membuka peluang munculnya kader potensial dari internal parpol yang selama ini terhalang hegemoni elite tertinggi parpol menuju Pemilu 2014, pandangan demikian akan segera terkoreksi. Melihat gejala saat ini, parpol lebih banyak memosisikan diri sebagai ”perahu” bagi elite tertinggi menuju 2014. Pola yang mapan terbangun, posisi sebagai elite tertinggi parpol menjadi semacam jalan bebas hambatan menuju posisi RI-1 atau RI-2.
Karena itu, kader potensial yang berasal dari internal parpol yang berpeluang jadi calon alternatif sulit muncul ke permukaan. Dalam hal ini, figur seperti Teras Narang dan Ganjar Pranowo (PDI-P), Jusuf Kalla dan Hajriyanto Tohari (Golkar), Yuddy Chrisnandi (Hanura), Lukman Hakim Saifuddin (PPP), Fadli Zon (Gerindra), serta puluhan nama lainnya tak mungkin menjadi figur alternatif. Mereka hanya mungkin hadir sekiranya parpol melakukan proses perekrutan yang bottom-up dan terbuka.
Kalau yang dari internal tidak mudah, tentunya calon alternatif dari luar parpol jauh lebih sulit. Merujuk aturan yang ada, kesulitan ini benar-benar jadi jalan buntu karena tak tersedianya ruang bagi calon perseorangan (yang bukan diajukan parpol) menjadi calon presiden. Karena itu, figur seperti Moh Mahfud MD, Anies Baswedan, Irman Gusman, Imam B Prasodjo, Teten Masduki, dan sederetan nama lain sulit hadir menjadi calon sebagai alternatif. Bahkan, kalau publik mendesak PDI-P dan Gerindra mengajukan Jokowi kembali sebagai calon alternatif menuju Pemilu 2014, kedua parpol ini pasti akan menolak.
Dalam batas-batas tertentu, hasil pemilihan gubernur DKI Jakarta memberi sedikit ”kemewahan” dalam panggung politik negeri ini. Namun, kemewahan akan munculnya calon alternatif dalam Pemilu 2014 hampir mustahil terjadi. Kemustahilan itu hanya mungkin meluruh kalau parpol mau dan mampu mengambil pelajaran dari tamparan yang hadir dari hasil pemilihan gubernur DKI.
Saldi Isra Guru Besar Hukum Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang; Anggota Badan Pekerja Forum Kebangsaan Gerakan Indonesia Memilih
 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary