Tampilkan postingan dengan label imperialisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imperialisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Cornelis de Houtman: Pembuka Jalan Penjajahan Belanda di Nusantara


CORNELIS de Houtman (lahir di Gouda, Belanda, 2 April 1565 – Tewas di Aceh, 1599), adalah seorang penjelajah Belanda yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Nusantara dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah bagi Belanda. Saat kedatangan de Houtman, Kerajaan Portugis telah lebih dahulu memonopoli jalur-jalur perdagangan di Nusantara. Meski ekspedisi de Houtman banyak memakan korban jiwa di pihaknya dan bisa dikatakan gagal, namun ekspedisi de Houtman yang pertama ini merupakan kemenangan simbolis bagi pihak Belanda karena sejak saat itu kapal-kapal lainnya mulai berlayar untuk berdagang ke Timur.

Awal perjalanan

Pada tahun 1592 Cornelis de Houtman dikirim oleh para saudagar Amsterdam ke Lisboa/Lisbon, Portugal untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai keberadaan "Kepulauan Rempah-Rempah". Pada saat de Houtman kembali ke Amsterdam, penjelajah Belanda lainnya, Jan Huygen van Linschoten juga kembali dari India. Setelah mendapatkan informasi, para saudagar tersebut menyimpulkan bahwa Banten merupakan tempat yang paling tepat untuk membeli rempah-rempah. Pada 1594, mereka mendirikan perseroan Compagnie van Verre (yang berarti "Perusahaan jarak jauh"), dan pada 2 April 1595 berangkatlah ekspedisi perseroan ini di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Tercatat ada empat buah kapal yang ikut dalam ekspedisi mencari “Kepulauan Rempah-rempah” ini yaitu: Amsterdam, Hollandia, Mauritius dan Duyfken.

Ekspedisi de Houtman sudah direcoki banyak masalah sejak awal. Penyakit sariawan merebak hanya beberapa minggu setelah pelayaran dimulai akibat kurangnya makanan. Pertengkaran di antara para kapten kapal dan para pedagang menyebabkan beberapa orang terbunuh atau dipenjara di atas kapal. Di Madagaskar, di mana sebuah perhentian sesaat direncanakan, masalah lebih lanjut menyebabkan kematian lagi, dan kapal-kapalnya bertahan di sana selama enam bulan. (Teluk di Madagaskar tempat mereka berhenti kini dikenal sebagai "Kuburan Belanda").

Tiba di Tanah Jawa

Pada 27 Juni 1596, ekspedisi de Houtman tiba di Banten. Hanya 249 orang yang tersisa dari pelayaran awal. Penerimaan penduduk awalnya bersahabat, tapi setelah beberapa perilaku kasar yang ditunjukkan awak kapal Belanda, Sultan Banten, bersama dengan orang-orang Portugis yang telah datang lebih dulu di Banten, mengusir rombongan “Wong Londo” ini.

Ekspedisi de Houtman berlanjut ke utara pantai Jawa. Namun kali ini, kapalnya takluk ke pembajak. Saat tiba di Madura perilaku buruk rombongan ini berujung ke salah pengertian dan kekerasan: seorang pangeran di Madura terbunuh sehingga beberapa awak kapal Belanda ditangkap dan ditahan sehingga de Houtman membayar denda untuk melepaskannya. Kapal-kapal tersebut lalu berlayar ke Bali, dan bertemu dengan raja Bali. Mereka akhirnya berhasil memperoleh beberapa pot merica pada 26 Februari 1597.

Saat dalam perjalanan pulang ke Belanda, mereka singgah di Kepulauan St. Helena, dekat Angola untuk mengisi persediaan air dan bahan-bahan lainnya. Kedatangan mereka ini dihadang oleh kapal-kapal Portugis yang merupakan pesaing mereka.

Akhirnya pada akhir 1597, tiga dari empat kapal ekspedisi ini kembali dengan selamat ke Belanda. Dari 249 awak, hanya 87 yang berhasil kembali.

Akibat dari ekspedisi de Houtman

Meski perjalanan ini bisa dibilang gagal, namun juga dapat dianggap sebagai kemenangan bagi Belanda. Pihak Belanda sejak saat itu mulai berani berlayar untuk berdagang ke Timur terutama di tanah Nusantara. Beberapa ekspedisi memang mengalami kegagalan, sementara lainnya sukses gilang-gemilang dengan keuntungan berlimpah-limpah dari total modal ekspedisi yang dikeluarkan.

Totalnya dalam rentang waktu antara 1598 dan 1601 ada 15 ekspedisi dikirim ke Nusantara, yang melibatkan 65 kapal. Sebelum Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) didirikan pada 1602, tercatat 12 perusahaan telah melakukan ekspedisi ke Nusantara dalam masa 7 tahun, yakni: Compagnie van Verre (Perusahaan dari Jauh), De Nieuwe Compagnie (Perusahaan Baru), De Oude Compagnie (Perusahaan Lama), De Nieuwe Brabantse Compagnie (Perusahaan Brabant Baru), De Verenigde Compagnie Amsterdam (Perhimpunan Perusahaan Amsterdam), De Magelaanse Compagnie (Perusahaan Magelan), De Rotterdamse Compagnie (Perusahaan Rotterdam), De Compagnie van De Moucheron (Perusahaan De Moucheron), De Delftse Vennootschap (Perseroan Delft), De Veerse Compagnie (Perusahaan De Veer), De Middelburgse Compagnie (Perusahaan Middelburg) dan De Verenigde Zeeuwse Compagnie (Perhimpunan Perusahaan Kota Zeeuw).

Kedatangan kapal-kapal inilah yang menjadi cikal bakal penjajahan Belanda atas tanah Nusantara.

Photobucket

Tewas di Aceh

Tahun 1598, Cornelis de Houtman bersama saudaranya Frederick de Houtman diutus lagi ke tanah Nusantara di mana kali ini ekspedisinya merupakan ekspedisi dalam jumlah besar. Armada-armadanya telah dipersenjatai seperti kapal perang.

Pada 1599, dua buah kapal pimpinan de Houtman yang bernama de Leeuw dan de Leeuwin berlabuh di ibukota Kerajaan Aceh. Pada awalnya kedua kapal ini mendapat sambutan baik dari pihak Aceh karena darinya diharapkan akan dapat dibangun kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan. Dengan kedatangan Belanda tersebut berarti Aceh akan dapat menjual hasil-hasil bumi, khususnya lada kepada Belanda.

Namun dalam perkembangannya, akibat adanya hasutan dari pihak Portugis yang telah lebih dahulu berdagang dengan Kerajaan Aceh, Sultan Aceh menjadi tidak senang dengan kehadiran Belanda dan memerintahkan untuk menyerang kapal-kapal mereka. Pemimpin penyerangan adalah Laksamana Keumala Hayati. Dalam penyerangan ini, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya tewas sementara Frederick de Houtman ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Frederick de Houtman mendekam dalam tahanan Kerajaan Aceh selama 2 tahun. Selama di penjara, ia menulis buku berupa kamus Melayu-Belanda yang merupakan kamus Melayu-Belanda pertama dan tertua di Nusantara.

Sumber:

Sabtu, 16 Juni 2012

Perang di Aceh

Masa imperialisme modern (1873-1918)

Aceh adalah halaman hitam dalam sejarah Hindia Belanda. Perang di Aceh adalah perang terpanjang dan paling mahal Belanda di Indonesia telah dibuat. Ada 60.000 warga Aceh dan sisi Belanda untuk 12.000 tentara tewas: 2000 dalam pertempuran dan 10.000 karena penyakit tropis.

Dalam perjuangan saat kemerdekaan Aceh (penduduk sekarang berjuang untuk kemerdekaan dari Indonesia) memainkan perang lama antara Aceh dan Belanda sekarang dan masih memiliki peran. Jadi diduduki pada bulan Agustus 1999, Kedutaan Besar Belanda Achinese pemuda. Mereka menuntut agar Belanda Maret 26, 1873 pernyataan perang akan menarik diri. Dengan demikian, Belanda akan mengakui kemerdekaan Aceh. Dan pada bulan November 1999, pemimpin pemberontak Islam mengklaim bahwa Belanda masih perang di Aceh tidak pernah secara resmi dihentikan.
Independen
Aceh akhir abad ke-19 daerah independen di barat laut Sumatera, dipimpin oleh seorang sultan. Setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 daerah ini menjadi semakin penting. Kapal dagang Eropa berlayar dari saat tidak lagi bersama Sumatera (melalui Selat Sunda) tapi jalan (melalui Selat Malaka). Ini melewati kapal pada perjalanan bisnis mereka sekarang Aceh independen.
Masalah
Perubahan jalur perdagangan memberikan masalah diperlukan. Kapal-kapal itu diserang oleh perompak dari Aceh. Sultan mencoba melakukan sesuatu di sini, tetapi memiliki kekuasaan terlalu sedikit untuk benar-benar dapat menghentikan pembajakan. Hasilnya adalah bahwa hubungan antara Belanda dan Aceh independen memburuk. Belanda ingin otoritasnya lebih tepatnya mendirikan koloni untuk mendapatkan kontrol lebih besar atas produk bernilai ekonomis. Itu adalah era imperialisme modern dan revolusi industri.
Ketika Belanda juga menandatangani kesepakatan dengan Inggris di Sumatera, ketegangan meningkat. Belanda adalah karena kontrol kesepakatan atas Sumatera. Sementara Aceh masih merupakan kesultanan mandiri. Sultan karena itu mencari dukungan dari kekuatan asing lain ke Belanda di bawah tekanan. Ini Belanda menyimpulkan bahwa Aceh harus dipaksa tunduk.
Perang
Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang Aceh dan meninggalkan Tentara Kerajaan Hindia Belanda KNIL pendek, dengan 3.000 pria ke Aceh. Pertempuran itu sulit, karena perang gerilya Aceh sengit. Perjuangan menjadi lebih akut oleh kenyataan bahwa orang Aceh muslim melihat perang sebagai "Perang Suci" melawan Belanda kafir di mata mereka.
Hanya kedatangan Kapten Van Heutsz mengambil perang berubah selamanya. Dia melakukan perang kontra dengan Korps Polisi Militer. Itu adalah pendekatan yang keras dan cepat, yang banyak korban. Namun strategi baru telah "sukses" dan pada tahun 1903, setelah tiga puluh tahun perang, memberikan sultan menyerah. Sultan Aceh dan pemimpin lain terpaksa tanda "Ringkas Pernyataan". Hal ini menunjukkan mereka berada di bawah pemerintahan Belanda dan jika mereka tidak memiliki kontak dengan pencarian asing. Aceh menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Tanggal berikut telah penting dalam perang Aceh:

November 17, 1869 Pembukaan Terusan Suez
20 Maret 1873 Belanda menyatakan perang Aceh
April 8, 1873 KNIL mendarat di Aceh
April 25, 1873 KNIL mundur
9 Desember 1873 Kedua invasi Aceh
1874 Penaklukan dari istana Sultan Aceh
1 851 - 1924 JB dari Heutsz
1904 - 1909 Gubernur Jenderal Heutsz
1903 Akhir perang di Aceh
1927 Heutsz mendapatkan penguburan kembali negara dari Royal Palace di Amsterdam
1928 Pembentukan Van Heutsz monumen di Amsterdam
1967 Dari pemboman peringatan pertama Heutsz
Agustus 1999 Anak muda Achinese diduduki Belanda Kedutaan Besar di Indonesia
November 1999 Demonstrasi kemerdekaan di Aceh